Jasaview.id

Tugas Manusia

BERKORBAN DEMI KEMANUSIAAN
YANG ADIL DAN BERPERADABAN

1. Pendahuluan

Bumi dan manusia merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan, manusia sebagai penghuni planet bumi menjadi makhluk ataupun satu kesatuan masyarakat ekologis yang interdependen dengan para makhluk hidup lainnya di bumi ini. Bila terjadi ketidakserasian ekologis, maka akan terjadi akibat yang merugikan semua penghuni planet bumi ini. Penciptaan manusia dan fungsinya di bumi dijelaskan oleh Tuhan; Sesungguhnya Tuhan menjadikan khalifah / petugas-Nya di muka bumi ini berwujud manusia, (Q.S. 2/30) Sesungguhnya Aku menjadikan seorang khalifah di muka bumi Khalifah pertama adalah Adam a.s., sebagai nama diri, juga mengandung arti “manusia”. Tuhan menciptakan Taman untuk Adam a.s. dan pasangannya yaitu Taman Eden, menempatkannya di Taman itu, untuk mengusahakan dan memeliharanya yakni sebagai tempat yang dapat dipergunakan untuk bekerja. Jadi, Adam a.s. diciptakan bukan untuk menganggur. Makanan yang ada adalah buah-buahan dari berbagai pohon, buah-buahan dan biji-bijian dari jenis semak-semak dan gandum/beras dari jenis rerumputan, (Q.S. 2/35) Dan kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan pasanganmu taman ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, karena dapat menyebabkan kamu menjadi orang yang zalim.
Lalu Tuhan menampilkan berbagai binatang, burung, dan tumbuh-tumbuhan (fauna dan flora) agar ia memberi nama bagi mereka, sehingga Adam a.s. dapat mengenali sifat-sifat dan kemampuankemampuan semua yang dikenali itu, (Q.S. 2/31)
Dan Tuhan mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya. Teguran bahkan hukuman Tuhan bagi Adam a.s. berupa persona nongrata dari taman Eden yang indah karena beliau memasuki batas larangan yang telah ditetapkan, agar tidak mendekati suatu pohon tertentu, apatah lagi memetik atau memakan buahnya. Itu merupakan isyarat betapa penting mempertahankan ekosistem dalam masyarakat ekologis di muka bumi.
 
Ketika Adam a.s. bersama pasangannya, menyentuh dan makan buah dari pohon yang telah ditentukan Allah tidak boleh mereka sentuh, akibatnya Adam a.s. diusir dari Taman Eden, mereka ternistakan, digambarkan sebagai telanjang (tanda dipermalukan) yang mengakibatkan perubahan kehidupan, bermula dari jerih payah untuk mencari rizqi sepanjang umur hidupnya. Tanah subur di Taman Eden telah ditingalkan dan harus terus menata tempat baru yang penuh tantangan sepanjang zaman. Dan ia terus lakukan sekalipun dengan pengorbanan dan kerja keras, kemudian dengan penuh kesadaran, Adam a.s. bertobat kepada Tuhan atas segala kelengahan-Nya, (Q.S. 3/37)
Kemudian Adam menerima beberapa ajaran bertaubat dari Tuhannya, Maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Kemampuan Nabi Nuh a.s. membaca tanda-tanda alam yang menjurus kepada terjadinya bencana air bah yang dapat memusnahkan segala penghuni bumi. Sehingga dengan keterampilan yang dimilikinya (atas petunjuk Tuhan) beliau mempersiapkan perahu pengaman kehidupan penghuni bumi pasca air bah yang mematikan sekalipun beliau tidak mendapat dukungan dari banyak kaumnya. Nabi Nuh a.s. dalam menghadapi tantangan selalu berdo’a : (Q.S. 23/29)
 
Ya Tuhanku, tempatkanlah Aku pada tempat yang diberkati, dan Engkaulah sebaik-baik Dzat yang memberi tempat. Nabi Nuh a.s. telah tampil sebagai pemimpin penyelamat generasi makhluk hidup yang selalu memberi bimbingan dengan ajaran Ilahi, serta contoh kongkrit berbentuk ﺕﺍﲑﳋﺍ ﻞﻌﻓ perbuatan kebajikan, sehingga selamatlah perjalanan generasi kehidupan selanjutnya. Itulah contoh kepemimpinan berwawasan masa depan, (Q.S. 21/73)
Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami dan telah kami wahyukan kepada mereka, agar mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan
zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah, Juga, betapa ketat regulasi yang ditetapkan oleh Muhammad S.A.W. demi melindungi Madinah dari terpaan terik panas alam lingkungannya. Dengan ketetapan regulasi yang tak kenal tawar-menawar berupa larangan mutlak menebang tegakan pohon apapun
jenis tegakan itu, ancamannya jelas. Barangsiapa berani melanggarnya, akan mendapat laknat dari Allah, para malaikat, dan manusia sejagat. Dalam hadits riwayat Bukhari dari sahabat Anas r.a. mengisahkan undang-undang tentang larangan penebangan tegakan pohon di Negara Madinah.
ﻪْﻨَﻋ ﻪﱠﻠﻟﺍ ﻲِﺿَﺭ ٍﺲَﻧ ﹶﺃ ْﻦَﻋ ، ﹶﻝﺎﹶﻗ َﻢﱠﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴ ﹶﻠَﻋ ﻪﱠﻠﻟﺍ ﻰﱠﻠَﺻ ﻲِﺒ ﻨ ﻟ ﺍ ِﻦَﻋ : ْﻦِﻣ ﻡَﺮَﺣ ﹸﺔَﻨﻳِﺪَﻤﹾﻟﺍ
ِﻪﱠﻠﻟ ﺍ ﹸﺔَﻨ ْﻌﹶﻟ ِﻪْﻴ ﹶﻠَﻌﹶﻓ ﺎﹰﺛَﺪَﺣ ﹶﺙَﺪْﺣﹶﺃ ْﻦَﻣ ﹲﺙَﺪَﺣ ﺎَﻬﻴِﻓ ﹸﺙَﺪْﺤﻳ ﺎﹶﻟَﻭ ﺎَﻫﺮَﺠَﺷ ﻊﹶﻄﹾﻘﻳ ﺎﹶﻟ ﺍﹶﺬﹶﻛ ﻰﹶﻟِﺇ ﺍﹶﺬﹶﻛ
ﻨ ﻟ ﺍ َﻭ ِﺔﹶﻜِﺋ ﺎﹶﻠَﻤﹾﻟ ﺍ َﻭ َﲔِﻌَﻤْﺟﹶﺃ ِﺱﺎ * ) ﻩﺍﻭﺭ ﻱﺭﺎﲞ (
Rasulullah bersabda: Ditetapkan beberapa larangan di Negara Madinah ini; Tegakan pohonan yang ada di dalamnya tidak boleh ditebang, dan larangan ini tidak boleh diubah, barang siapa melanggar dan mengubah larangan ini maka Allah, para malaikat, dan manusia sejagat melaknat mereka. Itulah suatu hakekat bahwa bumi, manusia, dan makhluk-makhluk hidup lainnya di bumi ini merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Makhluk-makhluk hidup penghuni bumi ini sangat bergantung pada kelestarian bumi/alam. Sedangkan kelestariannya dapat wujud menurut kadar kearifan dan kesantunan ummat manusia dalam mempertahankan ekosistem.
Dalam hal ini Tuhan telah memberi bimbingan kepada komunitas ekologis di muka bumi ini bahwa: Bumi diciptakan sebagai hamparan, dipergunakan sebagai akses transportasi, sebagai penampung air hujan yang dari padanya tumbuh berbagai pasangan tanaman / tumbuhan, dari padanya diproduksi pangan dan pakan untuk manusia dan ternak dan makhluk hidup lainnya, sehingga kehidupan dapat terus berestafet dan sustainable, (Q.S. 20/53-54)
53. Tuhan Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang Telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-ja]an, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.
54. Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.


2. Bumi Harus Diselamatkan


Pesan hari raya kurban kali ini (1428 H) adalah: Suatu ajakan  meningkatkan karya nyata penyelamatan bumi tempat tinggal segala makhluk hidup, dari kerusakan, kehancuran, akibat ulah dan keserakahan manusia. Suatu ajakan diikuti tindakan nyata oleh siapa saja, pemimpin, rakyat, pemerintah, swasta, siapapun harus melakukan sekuat tenaga dan kemampuan yang dimilikinya. Sikap dan tindakan penyelamatan lingkungan hidup yang kita sikapi ini, menjadi pertanda ketakwaan kita kepada Tuhan Y.M.E. oleh itu mari kita lakukan dan wujudkan sikap: (Q.S. 11/88) Yang aku maksudkan hanyalah mendatangkan perbaikan dan penyelamatan selama aku berkemampuan. dan kesepakatanku terhadap sikap ini hanyalah karena Allah, Tuhan tempat aku berserah diri dan aku kembali. Mengapa bumi harus diselamatkan dari kerusakan maupun kehancuran? Sebab bumi (tanah) adalah asal kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya, ke dalam bumi pula disemayamkan, dan pergantian generasi selanjutnya bersumber dari bumi yang kita huni ini. Ajaran Tuhan membimbing kita bahwa, (Q.S. 20/55)

Dari bumi (tanah) lah kami menjadikan kamu semua makhluk hidup dan kepadanya aku akan mengembalikan kamu semua dan daripadanya kami akan mengeluarkan / menjadikan lagi. Menurut keyakinan ummat beriman maupun manusia secara keseluruhan, bumi dan isinya adalah karunia Ilahi, karunia paripurna yang dianugerahkan kepada ummat manusia. Dilengkapi dengan petunjuk pemanfaatannya, untuk itu manusia dikarunia akal, naluri, dan kodrat alamiah untuk kelanjutan hidup masing-masing. Agar kita memiliki rasa tanggung jawab yang setinggi-tingginya terhadap bumi karunia Ilahi ini, kita harus menanamkan sikap dan tanggung jawab itu pada diri kita masing-masing. Bahwa Tuhanlah yang telah menganugerahkan semua itu, (Q.S. 20/50)
 
Tuhan kami lah yang telah menganugerahkan segala sesuatu kepada makhluknya dan diikuti segala petunjuknya Dari situ jelas, manusia merupakan makhluk yang sangat bertanggung jawab atas segala kelestarian maupun kerusakan planet bumi ini. Manusia berdasar kodratnya diciptakan berpasangan, male dan female yang selanjutnya membentuk suku dan bangsa, dari situ tercipta interdependensi ummat manusia sejagat raya ini. Terciptalah kehidupan mozaik global, tersusun dari negara bangsa yang masing-masing memiliki kedaulatan, kebebasan, dan kemerdekaannya, dalam mengatur negara bangsa masing-masing. Interdependensi ummat manusia berdasar perwujudan kebangsaannya, menjadikan interdependensi antarnegara bangsa secara global. Maka jika dalam memanfaatkan bumi ini yang kemudian terjadi berbagai kerusakan akibat ulah manusia, maka penanganan dan penyelamatannya menjadi tanggung jawab bersama, tanggung jawab antarbangsa. Kerusakan yang terjadi menjadi tanggung jawab bersama, (Q.S. 30/41) Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, karenanya Allah menampakkan berbagai akibat buruk yang mereka rasakan akibat perbuatan mereka, kiranya mereka mau kembali kepada aturan yang benar. Karena ummat manusia ataupun bangsa-bangsa di dunia ini saling ketergantungan dalam memakmurkan bumi karunia Tuhan maka memakmurkannya pun menjadi hak bersama. (Q.S. 11/61)
 
Tuhan telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya, Karena itu jika terjadi kesalahan mohonlah ampunan-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat rahmat-Nya lagi selalu mengijabah segala permohonan . Dari sejumlah negara bangsa di dunia berdasar kadar usaha dalam menata dan memajukan kehidupannya, terciptalah kelompok-kelompok, ada yang tampil dengan kemampuan dan kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan, yang sering disebut sebagai negara-negara maju, adapula yang sebaliknya, belum berkeupayaan menciptakan kesejahteraan hidupnya, yang sering disebut sebagai negara sedang berkembang, bahkan terbelakang. Selamanya Tuhan selalu memosisikan ummat / bangsa yang paling gigih dan patuh pada tatanan-Nya menjadi bangsa yang terdepan dalam kemajuan berbagai bidang
(Q.S. 49/13)
Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Tuhan adalah siapa yang paling takwa (yakni orang yang paling taat kepada tatanan Ilahi). Sesungguhnya Tuhan Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
 
3. Bangsa Indonesia Ikut Bertanggung Jawab

Bangsa Indonesia telah selamat mencapai kemerdekaan Negara Indonesia, menjadi negara merdeka, bersatu, berdaulat, menuju keadilan dan kemakmuran. Semua itu atas berkat rahmat Allah Yang Maha Esa dan atas dorongan keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas dan merdeka. Sejak dikumandangkan proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia dengan tegas menyatakan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia, berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Oleh sebab itu, gejolak apapun yang terjadi di muka bumi ini, Indonesia berkewajiban ikut meredamnya, itu sebuah konsekuensi. Isu pemanasan global, perubahan iklim, dan berbagai akibat yang ditimbulkan keduanya, merupakan isu besar ummat manusia seluruh penghuni bumi ini, ummat manusia seluruhnya merasa risau, dan seluruh bangsa-bangsa di dunia mencari solusinya, Indonesia menjadi tempat diskusi antarbangsa tentang hal tersebut. Apapun kesepakatan yang telah dicapai dalam diskusi internasional, biasanya tidak serta merta dapat dilaksanakan. Namun, dalam menghadapi isu pemanasan global dan perubahan iklim ini, tentunya Indonesia pun tidak terhindar dari akibatnya. Oleh sebab itu, bangsa Indonesia telah membentuk dan memiliki

Pemerintah Negara, yang fungsinya untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tanah air Indonesia sudah sewajibnya bertindak arif dan bijak menetapkan kebijakan-kebijakan dan rencana strategis berbentuk program aksi yang jelas dan terkontrol dalam menghadapi isu besar pemanasan global yang sudah pasti akan menimpa negara kepulauan Indonesia ini. Pemanasan global dan perubahan iklim, telah terjadi dan terus bergerak. Kenyataan yang telah kita rasakan di negara kita, bahwa cuaca semakin memanas, musim semakin tidak menentu. Hutan-hutan semakin menipis bahkan semakin habis. Sungai semakin tidak berkemampuan menampung air diwaktu hujan. Banjir melanda berbagai tempat dan kota-kota besar. Desa-desa dan kota-kota tidak memiliki tegakan hutan yang mampu melindungi dan meneduhi lingkungan. Walhasil terlalu luas areal tanah air kita tidak terlindungi oleh rimbunnya tegakan rimba/hutan. Di berbagai negara duniapun merasakan seperti yang kita rasakan. Dalam menghadapi kejadian/peristiwa semacam ini, kita sebagai manusia beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, semestinya tidak saling mencari kesalahan, siapa yang paling bersalah, negara mana penyebab segala yang sedang terjadi. Sebab diskusi global/internasional telah diselenggarakan. Semestinya tindakan lokal, untuk mengurangi pemanasan dan mengantisipasi perubahan iklim itu harus kita mulai dari titik dan lokasi paling kecil, dari desa, kota, dan seluruh tanah air.
 
Gerakan utama yang harus kita lakukan segera adalah menciptakan Payung Tanah Air berupa Gerakan Penghijauan Nasional. Suatu gerakan yang didukung oleh kekuatan Undang-undang yang jelas dan tegas.Pemerintah bersama rakyat, bahu-membahu melaksanakannya. Ditetapkan target dari tahun ke tahun, dilindungi kelestarian hidup tumbuhnya tegakan yang telah ditanam, pemerintah dan rakyat melaksanakan perawatannya. Gerakan selanjutnya adalah revitalisasi sungai, danau, waduk serta menciptakan cekungan-cekungan tampungan air, agar dapat berfungsi sebagai penyalur dan penampung air pada musim yang diperlukan. Sesungguhnya jika semua itu kita lakukan, hakekatnya adalah suatu kewajaran belaka. Sebab, tegakan-tegakan pohon raksasa yang telah kita tebang, semuanya itu adalah hasil tanaman pendahulu kita, dan jika kita kini menanam itu maknanya kita secara wajar berbuat untuk generasi penerus kita, penerus kelangsungan Indonesia Raya. Disini Penghijauan Nasional bermakna: usaha membangun jiwa raga bangsa Indonesia untu kelangsungan hidup Indonesia Raya yang kuat dan damai. ﺎﻨﻠﺒﻗ ﻦﻣ ﺱﺮﻏ ﺪﻘﻟ ﺎﻧﺪﻌﺑ ﻦﻣ ﻞﻛﺄﻴﻟ ﻦﳓ ﺱﺮﻐﻧﻭ ﺎﻨﻠﻛﺄﻓ Pendahulu kita telah menanam dan kita menikmatinya, maka kini giliran kita menanam agar generasi penerus kita dapat merasakan nikmatnya.

4. Membangun Kesadaran Bersama


Kesadaran individu menuju terciptanya kesadaran bersama dalam menghadapi segala macam tantangan kehidupan harus terus dibangun. Musibah, bencana, kecelakaan dalam kehidupan, datangnya selamanya tidak pernah memilih dan memilah obyek/sasaran maupun korbannya. Banjir bandang akibat penebangan tegakan rimba secara liar, menerpa lingkungan sekitarnya tanpa pandang bulu, boleh jadi penjahatnya justru dapat menyelamatkan diri dari ulah jahatnya itu. Bahkan dalam masyarakat negara yang belum sadar lingkungan penjahat semacam itu masih dapat lolos dan selamat dari tuntutan hukum. Hutan gundul, areal luas yang tidak diselimuti oleh rimbunnya tegakan pohon, mengakibatkan peningkatan tekanan suhu udara, semakin panas, mematikan banyak makhluk hidup. Terpaan panas semacam itu, juga tidak memilih korbannya. Walhasil bencana tidak memilih korban! Penjahat, orang baik-baik, pemimpin, rakyat jelata, istana, maupun gubug reot, semua dapat menjadi sasaran bencana. Tuhan berpesan dalam ajaran-Nya:  (Q.S. 8/25)
Dan hindarilah bencana yang tidak khusus menimpa orang-orang yang berbuat zalim angkara murka saja. Di sini kesadaran individu harus dibangun, untuk terciptanya kesadaran bersama yang selanjutnya menjadi kesadaran nasional. Ajaran Ilahi berkenaan dengan kesadaran bersama atau kesadaran Nasional dapat menimbulkan kekuatan yang sangat absolut mampu mencegah dari berbagai hal negatif. Pesan Tuhan:
(Q.S. 5/105)
Hai orang-orang yang beriman, tingkatkan kesadaran dirimu, jika kamu memiliki kesadaran bersama maka tidak siapapun yang mampu memberi mudharat kepadamu apabila kamu tetap sadar pada petunjuk Tuhan. Kesadaran yang kita bangun adalah: Kesadaran memelihara lingkungan hidup, memelihara bumi di mana kita tinggal. Kita ciptakan suasana lingkungan yang asri. Bumi yang memiliki dan mampu menampung air yang bersih, penuh tegakan pohon rimba yang tertata kerimbunannya, berisi berbagai macam ternak yang sihat dan menyihatkan, penuh dengan tanaman pangan yang dapat membantu pangan dan pakan menuju pertumbuhan kesihatan bangsa dan ummat manusia serta makhluk hidup lainnya. Memelihara lingkungan asri, memelihara bumi agar tetap asri sama halnya dengan menata taman syurgawi, dalam kehidupan di dunia ini. Sebab taman syurga yang telah ditamsilkan oleh Tuhan Y.M.E., meliputi keasrian lingkungan hidup. Mulai hari ini, hidupkan kembali kesadaran kita untuk peduli lingkungan hidup, mulai dari diri kita masing-masing membangun kebaikan untuk menyelamatkan bumi tempat kita tinggal, menanam tegakan pohon di lingkungan kita dan memeliharanya adalah sama dengan menghidupkan kebaikan, menyelamatkan bumi dari terpaan panas yang mematikan. Tuhan akan selalu menyertai kehendak kita, sebesar usaha kita menata lingkungan hidup sebesar itu pula pertolongan Tuhan akan kita rasakan, dan bencanapun akan dapat diminimalkan. Tanamlah tegakan pohon di halaman-halaman tempat tinggal kita, di lokasi / areal-areal kosong yang kita punyai. Ciptakan lingkungan yang penuh dengan tegakan pohon yang tertata dan terpelihara rapi. Semua kelak akan menjadi payung peneduh dari terpaan panas yang pasti datang masanya. Mari kita ciptakan Taman Surgawi di dunia ini, sebagaimana tamsil yang diberikan Tuhan.(Q.S. 47/15)
Perumpamaan Taman Surgawi yang dijanjikan bagi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan adalah Taman yang di dalamnya ada sungai-sungai berisi air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai yang berisi air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai berisi anggur yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang jernih tersaring; dan mereka mendapatkan di dalam taman itu segala macam buah-buahan dan ampunan Tuhan

Karenanya, menunjuk tamsil di atas sudahkah Taman atau tempat di mana kita tinggal hari ini memiliki ciri-ciri tamsil dari Tuhan itu ? Sudahkah Negara kita memiliki sungai yang berair bersih berfungsi air sebagai sumber kehidupan ? kalau kita punyai, maka Negara kita patut dijuluki Taman Surgawi. Sudahkah Negara kita memiliki sumber susu segar yang melimpah, sehingga kita dapat menikmati untuk meminum dan memberi minum pada bangsa lain ? Anggur sumber minuman segar, madu, dan buah-buahan sudahkah berproduksi di Negara kita ? Semuanya pertanyaan yang mesti kita wujudkan jawabannya. Itu pun kalau kita ingin menjadi
penghuni surga di dunia ini, apatah lagi di akhirat kelak. Kalau tidak, maka menjadi sebaliknya, menjadi neraka kehidupan. Sungainya mendidih yang mampu memotong tenggorokan dan usus kehidupan, maknanya sengsara abadi di dunia ini, dan jika seperti itu, bagaimana kelak di akhirat ? Jika kehidupan taman surgawi / lingkungan hidup yang asri yang kita ingin wujudkan, maka sesungguhnya diperlukan pengorbanan yang tiada henti. Pengorbanan dalam bentuk mempertajam konsistensi tindakan menata generasi penerus yang tetap sadar terhadap cita-cita kesatuan dan persatuan berbangsa dan bernegara. Pengorbanan dalam bentuk terciptanya cita-cita bersama Indonesia yang damai asri nikmat untuk dihuni oleh segala warga bangsa tanpa kecuali. Semoga kita dapat terus berkorban demi kemanusiaan yang penuh keadilan dan berperadaban. 

Posting Komentar

0 Komentar